Kutipan buku Breath of Love oleh Yang Mulia Bhante Vimalaramsi

Kewaspadaan (sati) adalah “mengingat untuk mengamati bagaimana perhatian pikiran bergerak dari saat ke saat dan mengingat apa yang harus dilakukan terhadap segala fenomena yang muncul.” Meditasi yang sukses memerlukan kemampuan kewaspadaan yang telah dikembangkan dengan baik. Latihan 6R/6M yang diajarkan di Pusat Meditasi Dhamma Sukha adalah penggunaan kembali sistem bimbingan klasik dalam mengembangkan keahlian ini.

R/M yang pertama adalah Recognize (Mengenali) tetapi sebelum kita melakukan itu, meditator harus ingat untuk menggunakan kekuatan pengamatan (kewaspadaan) mereka agar siklus meditasi mulai berjalan. Kewaspadaan adalah bahan bakar, bagaikan bensin untuk mobil. Tanpa kewaspadaan, segalanya berhenti!

Gigih dalam melakukan praktek ini akan membebaskan segala bentuk penderitaan.

Untuk memulai siklus ini dengan lancar, Anda harus mulai menyalakan mesin dan memiliki banyak bahan bakar (kewaspadaan) dalam tangki Anda!

Meditasi (bhāvanā) membantu Anda untuk melepaskan keadaankeadaan delusi yang menyulitkan dalam hidup seperti ketakutan, kemarahan, ketegangan, stres, kekhawatiran, depresi, kesedihan, duka cita, kelelahan, perasaan bersalah, tak berdaya, atau apapun ‘perangkap (kemelekatan)’ yang terjadi.

Delusi yang dimaksud di sini adalah mengambil apapun yang muncul secara pribadi dan mengenalinya sebagai ‘saya’, ‘diri saya’, ‘milik saya’, atau ‘attā‘ dalam Bahasa Pāli. Keadaan-keadaan ini menghasilkan penderitaan yang kita sebabkan sendiri. Penderitaan ini datang dari kurangnya pemahaman tentang bagaimana sebenarnya hal-hal terjadi.

Enam R(M) adalah langkah-langkah yang berkembang menjadi satu kesatuan gerakan yang mengalir menjadi suatu tendensi kebiasaan baik baru yang membebaskan penyakit di dalam pikiran dan di badan jasmani.

Siklus ini dimulai ketika kewaspadaan mengingat 6R/6M yaitu:
1. Recognize (Mengenali)
2. Release (Melepaskan)
3. Relax (Merilekskan)
4. Re-smile (Manis tersenyum kembali)
5. Return (Mengembalikan)
6. Repeat (Mengulangi)

Perkembangan kewaspadaan (kekuatan pengamatan Anda) memperhatikan setiap langkah dari siklus latihan ini. Begitu Anda memahami apa tujuan dari kewaspadaan, maka menjaganya terus menerus sepanjang waktu bukanlah masalah, dan ini membuat meditasi semakin mudah untuk dipahami dan lebih menyenangkan untuk dilakukan. Hal itu menjadi bagian dari kehidupan yang bahagia dan memunculkan senyuman. Mengingat 6R/6M akan membuat Anda memiliki pikiran yang baik dan ringan.

Mengingat melalui kewaspadaan merupakan hal yang sangat penting. Sebelum mempraktekkan 6R/6M, Anda harus ingat untuk memulai siklus ini. Itulah caranya! Anda harus ingat untuk mengisi bahan bakar, sehingga mesin itu akan berjalan lancar!

6r

1. Recognize (Mengenali): Kewaspadaan mengingat bagaimana Anda dapat mengenali dan mengamati setiap pergerakan perhatian pikiran dari satu hal ke hal lainnya. Pengamatan ini memperhatikan setiap gerakan perhatian pikiran yang menjauh dari objek meditasi, seperti napas, memancarkan mettā (cinta-kasih) atau melakukan tugas dalam kehidupan sehari-hari. Anda akan menyadari adanya sedikit ketegangan atau sensasi keketatan pada saat perhatian pikiran baru saja mulai bergerak ke arah fenomena apapun yang muncul.

Perasaan senang atau menyakitkan dapat muncul pada salah satu dari enam pintu indera. Tampilan, suara, bau, rasa, sentuhan atau pikiran dapat menyebabkan mulainya sensasi yang menarik Anda. Dengan pengamatan teliti tanpa menghakimi, meditator akan memperhatikan sedikit sensasi mengetat. Mengenali pergerakan awal ini penting untuk keberhasilan latihan meditasi. Anda kemudian dapat meneruskan untuk:

2. Release (Melepaskan): Ketika suatu perasaan atau pikiran muncul, Anda melepaskannya, biarkan itu ada di sana tanpa memberinya perhatian. Isi dari gangguan itu tidaklah penting sama sekali, tetapi cara ‘bagaimana’ itu muncul sangat penting! Lepaskan saja keketatan apapun di sekitarnya; biarkan itu ada di sana tanpa memberinya perhatian. Ketika tak memperoleh perhatian, keketatan akan hilang. Kewaspadaan kemudian mengingatkan Anda untuk:

3. Relax (Merilekskan): Setelah melepaskan perasaan atau sensasi dan membiarkannya ada di sana tanpa mencoba untuk mengontrolnya, ada ketegangan halus, yang hampir-hampir tidak dikenali dalam pikiran atau dalam badan jasmani. Inilah sebabnya langkah ‘merilekskan’ (langkah ‘menenangkan’ seperti yang dinyatakan dalam sutta-sutta) ditunjukkan oleh Buddha dalam instruksi meditasi. Mohon, jangan melompati tahap ini! Melompati langkah ini sama seperti tidak mengisi oli ke dalam mobil sehingga mesinnya tidak dapat berjalan dengan mulus.

Bahasa Pāli yang penting di sini adalah ‘passambaya’. Kata ini secara khusus berarti ‘menenangkan’ dan muncul sebagai suatu “kata kerja tindakan untuk dilakukan” seperti yang diuraikan dalam sutta-sutta, dan ini bukan “jenis merilekskan umum” yang termasuk dalam langkah-langkah melepaskan dalam jenis-jenis meditasi lain. Poin ini kadangkala disalah-artikan dalam terjemahan, yang kemudian mengubah hasil akhirnya!

Tanpa melakukan langkah merilekskan ini setiap saat dalam siklus, meditator tidak akan mengalami gambaran jelas dari berhentinya ketegangan yang disebabkan oleh keinginan, atau perasaan lega ketika keketatan dikendurkan. Perhatikan bahwa keinginan pertamatama selalu bermanifestasi sebagai suatu keketatan atau ketegangan baik dalam pikiran maupun badan jasmani.

Ketika Anda melakukan langkah Melepaskan/Merilekskan (Release/Relax), Anda memiliki kesempatan singkat untuk melihat dan meng-alami sifat alami dan kelegaan yang muncul dari berhentinya keke-tatan dan penderitaan .

Kewaspadaan berlanjut dengan mengingat untuk:

4. Re-smile(Manis Tersenyum Kembali): Jika Anda pernah
mendengar ceramah Dhamma di www.dhammasukha-indonesia.org, Anda mungkin ingat pernah mendengar betapa pentingnya tersenyum bagi meditasi. Belajar untuk tersenyum dengan pikiran dan menaikkan sudut bibir sedikit akan membantu pikiran untuk menjadi awas, waspada dan tangkas.

Sikap serius, tegang atau cemberut menyebabkan pikiran menjadi berat dan kewaspadaan Anda menjadi tumpul dan lamban. Menjadi lebih sulit bagi Anda untuk melihat pengertian mendalam sehingga melambatkan pemahaman Anda tentang Dhamma.

Bayangkan sejenak Bodhisatta yang sedang beristirahat di bawah pohon jambu air saat masih kecil. Beliau tidaklah serius dan tegang ketika beliau mencapai keadaan yang menyenangkan (jhāna) dan memiliki pandangan terang yang mendalam dengan pikiran yang ringan.

Ingin melihat dengan jelas? Sangat mudah! Cukup ringankan saja, menikmati bereksplorasi, dan tersenyum! Senyuman membawa kita ke latihan yang lebih menyenangkan dan menarik. Namun, jika meditator lupa untuk Melepaskan dan Merilekskan, daripada menghukum atau mengkritik diri sendiri, berbaik-hatilah dan mulai kembali. Memelihara selera humor Anda, rasa suka cita dalam menyelidiki dan mengulangi siklus secara terus menerus adalah penting.

Setelah tersenyum kembali, kewaspadaan akan mengingat langkah selanjutnya.

5. Return atau Re-Direct(Mengembalikanatau Mengarahkan
kembali): Dengan lembut, arahkan kembali perhatian pikiran pada objek meditasi (yaitu napas dan rileks, atau mettā/cinta-kasih dan rileks) dilanjutkan dengan pikiran yang lembut menyatu dan menggunakan objeknya sebagai ‘markas’. Dalam kehidupan seharihari, mungkin Anda teralihkan dari tugas yang sedang dikerjakan, itulah saatnya Anda mengembalikan perhatian pikiran Anda pada melepaskan, merilekskan, dan tersenyum lagi pada tugas yang sedang dikerjakan.

Kadang kala orang berkata bahwa siklus latihan ini lebih mudah daripada yang disangka! Menurut sejarah, hal-hal sederhana dapat menjadi suatu misteri dengan adanya sedikit perubahan dan pengurangan! Melakukan latihan ini akan mengembangkan fokus yang lebih baik dalam tugas sehari-hari dengan berkurangnya ketegangan dan keketatan.

Pikiran secara alami akan menjadi lebih seimbang dan bahagia. Anda menjadi lebih efisien dalam apapun juga yang Anda lakukan dalam hidup, dan sesungguhnya Anda akan menjadi lebih bergembira ketika melakukan segala hal yang sebelumnya dilakukan sambil menggerutu. Mendekati akhir siklus.

Kewaspadaan akhirnya mengingat pada yang terakhir untuk:

6. Repeat (Mengulangi): Ulangi meditasi Anda pada objeknya dan pertahankanlah selama mungkin, dan untuk mencapai hasil yang Buddha katakan dapat dicapai dalam kehidupan ini juga dibutuhkan pengulangan siklus latihan ini secara menyeluruh! Mengulangi siklus 6R/6M berulang-ulang pada akhirnya akan mengganti tendensi kebiasaan lama akan penderitaan karena kita sendiri telah melihat apa penderitaan itu sesungguhnya; melihat penyebabnya dan bagaimana kita menjadi terlibat dengan ketegangan dan keketatan karenanya; mengalami bagaimana mencapai penghentian dari penderitaan dengan cara melepaskan dan merilekskan; dan temukan bagaimana kita dapat menggunakan jalan langsung itu menuju pada penghentian penderitaan yang sama.

Kita mencapai penghentian ini setiap kali kita Melepaskan suatu perasaan yang muncul, Merilekskan dan Tersenyum kembali. Perhatikan rasa leganya itu!

Kesimpulannya, kewaspadaan (sati) sangat berkaitan dengan meditasi Buddhis dan kehidupan sehari-hari. Mempertajam kemampuan kewaspadaan Anda adalah kunci menuju meditasi yang simpel dan mudah. Proses mengingat kewaspadaan membuat latihan enam langkah terus berlangsung.

Melatih meditasi ini sedekat mungkin dengan instruksi-instruksi (yang ditemukan dalam sutta) akan meringankan pengalaman hidup Anda. Latihan yang mirip sekali dengan ini diajarkan kepada orangorang di jaman Buddha. Ini diajarkan dalam bentuk Usaha Benar dan dalam 6R/6M kita menambahkan beberapa langkah untuk membuat hal-hal lebih mudah dimengerti.

Hasil mengagumkan dengan melakukan meditasi cara ini adalah ‘langsung efektif’ untuk siapapun yang secara tekun dan penuh semangat mengikuti instruksinya. Saat kemelekatan muncul, latihan ini lama-kelamaan akan meleburkan rintangan, namun dibutuhkan kegigihan dalam penggunaan 6R/6M untuk membuat itu terjadi.

Ketika Anda berlatih dengan cara ini, karena ternyata sangat erat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, hal itu akan mengubah perspektif Anda dan menuntun Anda menuju pengalaman yang lebih sukses, bahagia dan penuh damai.

Sejalan dengan perkembangan kewaspadaan maka pengetahuan dan kebijaksanaan akan tumbuh secara alami ‘sebagaimana’ Anda melihat hal-hal terjadi dengan menyaksikan proses impersonal atau tanpa diri pribadi dari Hukum Sebab Musabab yang Saling Bergantungan. Ini akan menuntun kepada suatu bentuk kebahagiaan yang disebut oleh Buddha sebagai “Rasa Puas” yang merupakan hasil sampingan dari menjalani norma hidup sebagai Buddhis.

Meditasi ini menuntun kepada keseimbangan, kondisi batin yang tak tergoyahkan (ketenang-seimbangan), dan meleburnya ketakutan dan ketidak-nyamanan lainnya. Dengan berkurangnya ketakutan dan kecemasan, Anda akan menemukan rasa percaya diri yang baru. Kemudian Cinta Kasih, Welas Asih atau Empati, Suka Cita dan Ketenang-seimbangan berkembang dalam hidup kita.

Kadar keberhasilan Anda berbanding lurus dengan seberapa baik Anda memahami kewaspadaan, mengikuti instruksi dengan tepat, menggunakan 6R/6M dengan baik saat berlatih meditasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah jalan menuju berakhirnya penderitaan. Mempraktekkan jalan ini sungguh menarik dan menyenangkan, dan tentu saja membantu Anda tersenyum sekaligus mengubah dunia di sekitar Anda dengan cara yang positif.

Ketika Anda berlatih Meditasi Pandangan Terang Ketenangan dengan Kebijaksanaan atau Tranquil Wisdom Insight Meditation (TWIM), Anda tidak menekan apapun juga, yang berarti kita tidak menekan ke dalam, atau menghalau, atau tidak membiarkan terjadinya pengalaman tertentu.

Hal ini dapat menghentikan munculnya rintangan untuk sesaat. Sebaliknya, saat rintangan muncul, Anda harus berusaha untuk membuka pikiran Anda dengan melihat secara jelas anicca (ketidakkekalan, sebelumnya tidak ada dan sekarang menjadi ada), dukkha (penderitaan atau kekecewaan, Anda melihat bahwa ketika gangguan muncul terasa menyakitkan), dan anattā (tidak memperlakukannya sebagai bersifat pribadi, melihat rintangan dalam sifat alaminya sebagai proses bukan pribadi, bahwa Anda tidak memiliki kuasa atas hal itu dan tidak memperlakukan rintangan tersebut sebagai “aku adalah ini”),

Anda kemudian melepaskan gangguan ini, merilekskan keketatan dalam kepala, menenangkan pikiran, dan akhirnya mengarahkan kembali perhatian yang bebas dari kemelekatan itu kepada latihan “pernapasan penuh kewaspadaan”. Sebagai hasilnya, Anda mulai melihat secara jelas bagaimana pikiran bekerja dan hal ini akan menuntun kepada berkembangnya kebijaksanaan.

Daripada mengidentifikasi diri dengan rintangan yang muncul, jika Anda membiarkannya ada di sana dan merilekskannya maka rintangan-rintangan tersebut akan lenyap secara alamiah. Pikiran menjadi lebih jernih dan terang. Setiap saat Anda melepaskan kemelekatan ego dari “Aku adalah itu” maka pikiran dengan sendirinya menjadi meluas, awas dan waspada.
Oleh karenanya, salah satu alasan buku ini diterbitkan adalah untuk memperlihatkan bahwa kapanpun Anda menekan gangguangangguan itu agar tidak muncul, maka saat itu Anda tidak memurnikan pikiran atau tidak mengalami hal-hal sebagaimana apa adanya. Pada saat Anda menekan rintangan, itu berarti Anda menyingkirkannya dan tidak membiarkannya menjadi bagian dari pengalaman Anda. Oleh karena itu, pikiran menjadi mengerut, menegang dan bahkan lebih ketat, bukannya menjadi meluas dan terbuka. Alhasil hal ini tidak memurnikan pikiran dari delusi dan nafsu keinginan. Sesungguhnya Anda malah menghentikan pemurnian pikiran!

Tidaklah mungkin untuk mengalami keadaan tak berkondisi NibbānaLokuttara (Nibbāna yang melampaui duniawi) jika seseorang tidak melepaskan apapun juga yang muncul, dan dalam cara itu memurnikan pikiran dari keyakinan ego “aku adalah itu”.

Buddha tidak pernah mengajarkan untuk menekan pengalaman apapun, beliau juga tidak pernah mengajarkan meditasi yang menyebabkan pikiran terarah pada sesuatu, ataupun menjadi terserap atau terpaku dalam objek meditasi. Ingatlah, beliau menolak segala jenis meditasi konsentrasi sebagai cara yang tidak tepat. Sesungguhnya segala jenis rasa sakit, emosi karena sesal, tidak nyaman di badan jasmani dan bahkan kematian seharusnya dapat diterima dengan ketenang-seimbangan, kesadaran penuh atau perhatian kuat tanpa mengidentifikasikan diri dengan keadaan tersebut atau membawa rasa sakit itu sebagai miliknya pribadi.

Perubahan kepribadian yang nyata terjadi ketika Anda membuka dan memperluas pikiran Anda serta melepaskan segala macam rintangan, kesakitan, penderitaan dan ketegangan dalam hidup Anda sehari-hari. Ini artinya Anda membuka dan memperluas kewaspadaan Anda sehingga Anda dapat mengamati semuanya dengan pikiran hening, terbebas dari keketatan dan semua kemelekatan ego. Anda perlahan-lahan menuju kehidupan yang bahagia dan tenang tanpa keruwetan pikiran, terutama dalam kegiatan sehari-hari.

Ketika Anda berlatih ‘meditasi konsentrasi’, Anda akan merasa sangat nyaman dan bahagia ketika berada dalam meditasi yang dalam. Namun, ketika Anda keluar dari tahapan agung ini, kepribadian Anda tidak berubah. Amarah, ketakutan atau kecemasan lama tetap ada. Artinya ketika rintangan datang menyerang, Anda tidak mengenalinya, tidak membuka pikiran Anda, dan tidak membiarkan rintangan berada di sana tanpa memperlakukannya sebagai milik pribadi.

Oleh karenanya, Anda mengerutkan pikiran dan menjadi sangat melekat padanya! Anda bahkan dapat menjadi sangat sombong dan kritis! Ini karena ketika rintangan muncul saat bermeditasi, Anda melepaskannya dan segera kembali ke objek meditasi.

Anda melakukannya tanpa menenangkan dan merilekskan keketatan yang timbul karena gangguan itu. Ketika bermeditasi, pikiran Anda cenderung menjadi tertutup atau mengerut dan mengetat di sekeliling pengalaman tersebut hingga pikiran menjadi ‘terkonsentrasi’ jauh lebih dalam.

Alhasil walaupun hal ini dapat menekan rintangan, Anda tidak sepenuhnya melepaskan kemelekatan ego terhadap gangguan itu. Pikiran Anda juga menjadi ketat dan tegang karena Anda tidak melihat secara jelas. Bukannya membuka dan membiarkannya ada di sana, Anda malah menutup dan melawan gangguan tersebut.

Hal ini menjelaskan mengapa akhir-akhir ini para meditator mengeluh tentang ketegangan keras di kepala mereka. Sesungguhnya jika Anda benar-benar telah melepaskan semua gangguan maka seharusnya tidak pernah akan ada ketegangan dalam kepala. Ketegangan ini adalah hasil penekanan dimana tidak terjadi pemurnian pikiran yang sesungguhnya; dan oleh karenanya, perubahan kepribadian tidak terjadi.

6R/6M adalah teknik sederhana bagi siswa untuk digunakan ketika perhatian pikiran berkelana keluar dari objek meditasi. 6R/6M adalah kunci untuk mengembangkan kewaspadaan, mengubah rintangan menjadi sahabat, menjelajahi Empat Kebenaran Mulia, hidup dalam Tiga Corak Umum, dan lebih banyak lagi. Membiasakan diri dan akhirnya menguasai teknik ini memenuhi syarat bagi empat Usaha Benar dan dengan cepat membawa Anda menuju tujuan untuk tinggal bersama objek meditasi dan melepaskan lima rintangan ketika mereka muncul.